cropped-10014603_817211168339155_8389366265165200536_n.jpgTengok dan lihatlah kami wahai kebebasan, dipojok-pojok gubuk dipayungi kemiskinan dan kehinaan. Sekian banyak dada berdenting dihadapanmu, Di rumah-rumah kosong yang teronggok dalam kedunguan yang kelam, sekian banyak hati terlempar kepadamu. Di rumah-rumah yang tertutup dengan kabut kebohongan dan kesewenang-wenangan, sekian banyak jiwa meratap kepadamu. Lihatlah dan kasihinilah kami wahai kebebasan !  Di jalan-jalan kami yang sempit, para pedagang menjual hari-harinya dengan harga tertentu kepada para pencuri, dan tak seorangpun yang menasehatinya. Di ladang kami yang gersang, para petani menggali tanah dengan kuku-kukunya. dan menyirami dengan air mata, dan tidak ada yang ditanam kecuali pohon-pohon berduri. Di rawa-rawa kami yang gundul orang-orang desa berjalan telanjang dan kelaparan, tapi tak seorangpun yang mengasihinya. BIcaralah dan ajarilah kami. wahai kebebasan ! Sejak dulu kegelapan malam selalu mengelilingi jiwa kami. Lalu kapankah fajar akan menyingsing? Perhatikanlah dan dengarkanlah kami wahai kebebasan ! Tengoklah dan lihatlah kami, wahai ibu kesunyian alam ! Kami bukanlah anak-anak tirimu. berbicaralah dengan menggunakan lidah salah seorang diantara kami. karena denga satu tetes air saja, setangkai dahan kering sudah dapat menyalakan api. Dengan menggunakan gemerisik sayap-sayapmu, bangkitkanlah jiwa salah seorang dari kami. Karena dari segumpal awan saja, halilintar sudah dapat memancar menyinari celah-celah lembah dan puncak gunung.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Rumah Cinta

az

Angin yang berlalu

sampaikan salam rinduku padanya

pada dirinya, yang tak sempat kusapa

pada dirinya, yang belum sempat memeperkenalkan diri

pada dirinya, yang selalu melempar senyum untukku

pada dirinya, yang mengetuk pintu hatiku

yang bertandang dan menjambangi rumah cintaku

Belum sempat kuperkenalkan diriku

belum sempat kubuka pintu hatiku

ia pulang tanpa menyebutkan namanya

Padamu lah sang angin

ingin aku menitip salam rinduku

sampaikan padanya, bahwa aku akan menunggunya

membuka hati yang telah diketuknyahttps://wordpress.com/post

“Masuklah kedalam rumah cintaku”

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

NIsan bernama Cinta

az

Telah tuhan sempurnakan

Ejaan kalimat cinta untukmu. lalu mengapa hatimu masih mendustai cinta yang dihadirkan-Nya untukmu ? begitu besarkah keraguan hatimu ? mengapa tidak kau beri satu alasan untuk-Nya ? agar cintanya berlalu di hadapanmu dengan pamit secara baik-baik ? bukankah dia datang secara baik-baik pula ?

Satu alasan saja, yaa cukup satu alasan saja …

Lalu setelah itu kau biarkan dia pergi, atau pahat saja cinta itu di atas nisan tak bernama. dan lalu biarkan hatimu menguburnya, jika ia memang tak pantas kau kenang.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Perempuan Taman Bunga

az

Waktu berjalan tak ada batas

Engkau masih di taman bunga

Merangkai mimpi-mimpi hampa bias

Memaknai akar-akar dalam humus

Mendekap dada

Sudah kusampaikan kepada angin berhembus

Hikayat cinta di tepi sungai ada pancuran, membias hati

Hanya bibirmu tampak menguncup melipat bunyi

Waktu berjalan tak ada batas

Mata kakimu tetap membatas

Sungguh engkau bertahan menggunung sepi

Sampai senja merangkai gurita hitam

Membayang gelap terbaring di taman bunga

Menitikkan embun

Melengkung

Aku pun hanya mampu melukis wajahmu

Di balik dedaunan

Tak ada rindu

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Sepi Menikam Rindu

10014603_817211168339155_8389366265165200536_n

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Setelah menikam rindu, ia lari tergesa-gesa

Meninggalkan tempat kejadian perkara,

yang masih bersimbah darah

Rasa sesal pun memaki tak dapat menahan amarah

Khilaf  pun mengutuk tuan sepi seperti bara

“kemanakah ia melarikan diri,

Begitu tegakah ia membunuh rindu?

Rindu yang telah dinikahinya bertahun-tahun

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Ternyata sepi, tak hanya membunuh rindu

Ia pun telah menyayat-nyayat cinta

Luka-luka bekas sayatan di cinta

Menggoreskan kepedihan yang begitu mendalam

Masih merah, masih berdarah

“kemanakah ia melarikan diri?

Begitu teganya dia menyayat cinta.

Cinta yang telah ditanamnya penuh kasih

Buah yang telah mereka lahirkan dari rahim rindu

Rasa sesal dan khilaf berderai air mata

Rasa sesal dan khilaf tak mampu lagi mengurai kata-kata

Begitu sedih hati mereka meresapi derita

Menyaksikan potongan-potongan rindu

Yang terserak dan bersimbah darah

Menyaksikan luka-luka bekas sayatan cinta

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Setelah menikam rindu dan menyayat cinta

Ia melarikan diri dari tempat kejadian perkara

Dengan langkah tergesa-gesa. Dengan baju bersimbah darah

Rasa sesal dan khilaf menjadi murka

Rasa sesal berujar lirih,” hati orang memang tak bisa diterka,”

khilaf pun berucap sedih,” jalan hidup pun tak bisa direka,”

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Setelah menikam rindu dan menyayat cinta

Ia baru sadar, dirinya telah dirasuki prasangka

Perbuatannya telah mengantar rindu ke alam baka

Menggores luka ke tubuh cinta

Mengapa rindu dan cinta harus terluka olehnya?

Mengapa ditangannya-lah terjadi petaka

Sepi tak kuat menahan air mata

Sepi pun tak dapat menanggung derita

Telah membunuh rindu belahan jiwa

Padahal bertahun-tahun rindu mendampinginya setia

Akhirnya ia putuskan bunuh diri serta

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Rasa sesal dan khilaf tak dapat berbuat apa-apa

Orang-orang pun berdatangan bertanya ‘ kenapa’

Mereka pun memaki dan mengutuk ‘siapa’

Sepi bunuh diri satu jam yang lalu

Jasad sepi dan rindu terbaring bersama

Tergolek kaku tanpa nyawa

Orang-orang berduka tanpa irama

Cinta yang tersayat kini tanpa tawa

Jasad sepi dan rindu bersemayam

Orang-orang melayat dengan rasa geram

Mengutuk prasangka yang tak dapat diredam

Berselingkuh dengan sepi melahirkan dendam

Jasad sepi dan rindu terkubur semakam

Rumah cinta yang tersayat terbakar semalam

Air mata cinta yang tersayat berderai bak hujan yang membenam

Orang-orang ramai berdatangan semalam hingga pukul enam

Jasad sepi dan rindu terkubur senisan

Sudah terlalu banyak tangisan

Cinta yang tersayat meninggalkan pemakaman

Dengan baju hitam dan kaca mata hitam tanpa harapan.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Saling Menasehati

az

Sobatku

Apa yang kau cari ?

Yang kau cari hanya yang tak pasti

Nanti kau merugi

Sobatku

Carilah yang  pasti

Pergilah berlari untuk yang pasti

Janganlah berlari untuk yang tak pasti

Pasti nanti kau sesali

Menyesali diri hanyalah buang energi

Sobatku

Kini kau kunasehati

Barangkali

Besok, lusa, atau kapan-kapan

Ganti kau yang menasehati

Diri ini

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Runtuhnya Negara

Ketika Negara mati, ia mati sendiri.

Tidak tewas oleh musuh

Bukan oleh lawan di luar sana

Tidak pula karena habis umur masa berlaku

Ia tamat karena diri sendiri

Dari sisi dalam

Dihabisi. Sedang algojonya adalah, pembangkangan dan penyakit birokrasi

Bukan unsur asing, karena Tata Dunia Baru, PBB dan perangkat instrumen hukum internasional, tidak memberi ruang bagi negara untuk mengakuisisi negara lain. Pun jika itu dilakukan oleh sang Super Power sekalipun. Jadi, jika ada negara ambruk, tentu lebih karena faktor pembangkangan dari dalam. Oleh berbagai ketidakpuasan. Tusukan-tusukan pemberontak Sparatis berkali-kali. Kalau tidak, pastilah oleh sistem politik bernegaranya yang majal. Partai politik yang buntu dari ideologi massa, Tak ubahnya sebuah gerobak sampah. Tempat onggokan oligarki bercokol. Di mana garis perjuangan dirampok, untuk diganti dan dijejalkan padanya, pragmatisme sesaat. Cara licik dengan selundupkan kaki tangan pada parpol. Dan pada ujungnya adalah lahirnya anggota parlemen salon, yang terdiri dari gerombolan bandit berjubah legeslatif.

Di situ, menyelinaplah kepentingan. Praktis, Aspirasi menjadi macet. Suara konstituen mampet! Setelah semua itu.  Apatisme menyeruak di sana sini, Ketakacuhan massal terjadi. Setiap orang mencari hidup sendiri sendiri.

Saling tidak peduli

Negara benar-benar telah dicerai

Golput berjaya kibarkan panji

Rantai efek dari genangan manusia a politic ini, tentu saja adalah terbentangnya jalan lenggang bagi para idiot berwatak Despotis untuk memegang tampuk. Dari sana, berlangsunglah pembusukan secara perlahan. akhirnya pembangkangan para pemimpin terhadap konstitusi direstui. pengingkaran polisi atas hukum sendiri, tak berani dilerai Korupsi birokrasi rutin terjadi. Sangat bernyali.

Sangat sehari-hari

Semuanya dipahami

Segalanya ditoleransi

Stempel kebenaran dicari

Kesalahan, pun juga dosa dicuci dengan regulasi. Legitimasi!

Tanpa seorangpun menangisi

Negara tamat, lebih karena serangan penyakit parasit partai politik, birokrasi korup, hukum tumpul, pers yang permisive, dan nilai moral yang bangkrut. Patologi Sistemik, menular.kronis. Seperti TBC, meruyak, menggerogoti, merayap pelan.

Sekarat! Kemudian terbatuk untuk terakhir kali.lantas selamanya, pergi..

Barangkali, Indonesia adalah si sakit itu.

Sebuah negeri yang sedang merangkak di lorong kengerian. dalam perjalanan menuju ajal, mungkin karena konstitusi telah menjadi seperti deretan teks mati. pada pigora sebuah museum sepi. Dan kita bersama-sama ikut menikamnya bertubi-tubi.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar